Mengejar Mbak-mbak (Bagian 3 – End!)

Setelah berjibaku dengan dinginnya Tromso selama 2 malam demi melihat Mbak Aurora yang ternyata masih malu-malu, tekad kami masih tetap kuat untuk melihatnya menari dengan lincah di dua malam yang tersisa. Dan akhirnya pencarian malam ketigapun dimulai.

Tujuan kami malam itu adalah Danau Prestvannet yang terletak tak jauh dari hotel.  Menurut informasi dari petugas hotel kami, lokasi tersebut memang biasa untuk melihat Aurora. Lokasinya cukup aman karena di sekitarnya ada pemukiman penduduk, tetapi tempatnya agak gelap dan sepi.

Berbekal petunjuk arah dari petugas hotel kami berangkat ke danau dengan berjalan kaki. Kami sengaja berangkat sebelum hari gelap, supaya kalau nyasar nggak panik-panik amat. Jalan menuju danau sangat menanjak dan lumayan sepi. Di kiri kanan jalan salju setebal lebih dari 50 cm masih memenuhi halaman rumah penduduk. Waktu lewat jalur ini, yang langsung kebayang di otak saya adalah setting film Oshin. Hehehehe… (Jaduuul bo!)

Sampai di lokasi dimana seharusnya danau itu berada, kami agak bingung karena kami tidak melihat tanda-tanda adanya danau. Di depan kami hanya ada hamparan salju putih, mirip arena ice skating dengan pemandangan gunung didepannya. Sampai ketika ada seorang warga lokal lewat, kamipun bertanya.

“Itu danaunya di depan kalian, masih beku dan tertutup salju!” katanya sambil menunjuk lokasi yang mirip arena ice skating

Wow, kami pun takjub, karena permukaan danau hampir tidak ada bedanya dengan daratan. Antara jalan setapak, jalan kecil dan semak belukar juga sulit dibedakan. Semua tertutup oleh salju. Berkali-kali kami harus terperosok ke dalam salju karena ternyata salju yang kami pijak tidak begitu padat. Benar kata petugas hotel, lokasi tersebut juga sangat sepi. Tiba-tiba kengerian hinggap di pikiran kami. Kami cuma berdua, lokasi tersebut cukup jauh dari jalan raya, tidak ada penerangan jalan dan salju ada di mana-mana. Kami langsung sepakat bahwa kami tidak bisa tinggal lama-lama di situ. Kami harus pergi sebelum hari gelap.  Kebetulan langit juga tidak begitu cerah dan prakiraan aktivitas aurora masih belum begitu tinggi (masih sekitar 3). Kamipun kembali ke hotel, menghabiskan malam itu dengan menyusuri kota Tromso dan berakhir dengan sesi pemotretan di dermaga, spot wajib untuk turis Tromso.

Capture 7
Malam tanpa aurora

Malam ketiga, berlalu tanpa si mbak.

Daan, akhirnya malam terakhir kami di Tromso tiba. Langit tampak sangat menjanjikan malam itu. Biruuu..jerniiiih. Tanpa awan sedikitpun. Seakan siap menyambut Aurora yang diprediksi akan  berdisko malam itu dan memberikan salam perpisahan termanis bagi kami. Tak sabar rasanya menanti saat itu tiba.

Lokasi pencarian kami  kali ini adalah pantai di ujung pulau. Jaraknya lebih jauh dari jarak hotel ke danau, tetapi jalanannya datar. Perlu waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi tersebut. Sekitar jam 8.30 malam kami meninggalkan hotel, siap dengan perlengkapan perang. Lokasinya mudah dicari, dan ketika sampai sana, kami lega, karena ternyata banyak orang di sana.

Capture 6
Lokasi pengejaran malam terakhir

Kami melihat beberapa orang bergerombol membuat api unggun. Kamipun tak mau kalah, berbekal rumput kering dan kayu bakar seadanya yang berhasil kami kumpulkan dalam keremangan malam, kamipun membuat api unggun juga. Lumayanlah, buat menghangatkan badan. Setelah api unggun jadi, kami mulai mensetting kamera dan mencoba beberapa angle. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, tetapi langit masih belum gelap juga.

collage-2016-07-18 (4)
Langit tampak sangat menjanjikan

Lagi asyik-asyiknya ngecek gambar, tiba-tiba saya sadar ada yang aneh di kamera saya.

“YA… DIA DATAAAAANG!!!”

Orang-orang disekitar saya juga mulai bersorak sorai kegirangan melihat cahaya pertama datang. Saya menghabiskan sekitar 5 menit pertama hanya untuk mengamati pergerakannya. Sungguh gemulai. Lalu setelahnya saya kalap motret-motret.

collage-2016-07-18 (5)
Awal kemunculan Mbak Aurora

 

Saya semakin histeris saat cahaya semakin lama semakin tebal, bahkan berwarna warni, indah sekali. Beberapa saat kemudian, cahaya hijau langsung memenuhi langit. Mbak Aurora benar-benar menari malam itu. Bukan tarian solo, pasangan ataupun grup, tapi tarian massal dalam sebuah drama kolosal. Alhasil saya kebingungan di mana saya harus membidikan kamera saya. Berkali-kali muter posisi kamera supaya dapet gambar yang bagus, tetep nggak puas di satu titik. Dengan bukaan lensa terbatas, tentunya tidak banyak luasan bisa di capture.

collage-2016-07-18 (6)
Si mbak memenuhi langit

Malam itu mata saya benar-benar dimanjakan oleh aksi mbak Aurora. Sesekali saya tidak menghiraukan kamera saya, hanya diam membisu menatap Aurora, berterima kasih kepadanya atas pertunjukannya malam itu.

Hampir 3 jam kami berdiam di tempat itu, sampai akhirnya saya sadar kalau kaki dan tangan saya sudah sangat kedinginan. Sebenarnya temen saya belum mau pulang, tapi saya agak memaksanya. Dengan berat hati akhirnya dia setuju dan kami meninggalkan tempat itu.

Tapi siapa sangka, sepanjang jalan kami masih bisa melihat mbak aurora menari di langit. Seolah dia ingin mengantar kami pulang. Bahkan sampai di hotel cahaya itu masih terlihat dari dalam kamar. Sayapun mengajak teman saya jalan lagi ke dermaga untuk memotret. Angle yang sama, tetapi kali ini ada auraora dilangitnya. What a perfect picture.

Capture 8
Aurora around the city

Malam itu kami benar-benar bahagia. Terima kasih ya Allah, Engkau berikan kesempatan kepada kami untuk melihatnya malam ini. Sungguh sebuah perpisahan yang manis.

Paginya kami pulang dengan senyum lebar, penuh kenangan indah yang tak hanya terekam di kamera, tapi di mata kami, di hati kami, di setiap nafas kami.

Obsesi mengejar Mbak-mbak purna sudah, kini saatnya saya mengembalikan orientasi, fokus mengejar Mas-mas. Maaaaas, di mana kamuuuuuh? Aku mencarimuuuu!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Yes, I was witnessing this miracle

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mengejar Mbak-mbak (Bagian 3 – End!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s