Mengejar Mbak-mbak (Bagian 1)

Untitled

Akhirnya saya punya mood untuk menuliskan pengalaman mengejar Mbak mbak bernama Lady Aurora.

Sejak melihat Aurora Borealis di TV beberapa tahun lalu, saya punya angan-angan untuk bisa melihatnya langsung. Masih hanya angan-angan yang kalau kesampaian syukur, nggak juga nggak papa. Karena waktu itu saya sadar diri, sebagai orang yang tinggal di wilayah tropis, tentunya butuh effort yang besar untuk bisa pergi ke wilayah sub tropis apalagi daerah kutub. Namun, nasib baik datang pada saya ketika tahun 2014 saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di negerinya Ratu Elizabeth, United Kingdom. Sejak saat itu, saya mulai serius memikirkan rencana melihat Aurora Borealis.

Negara yang ingin saya kunjungi untuk melihat Aurora Borealis adalah Iceland, dan saya pun mulai menabung untuk mewujudkan rencana saya itu, termasuk cari-cari info tour yang ada di sana dan budget-nya.

Namun, siapa sangka, berawal dari obrolan santai di sebuah kedai kopi, rencana hidup saya berubah. Siang itu, temen saya mengutarakan keinginannya untuk melihat Aurora Borealis di Tromso dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan dan dia mengajak saya ikut serta. Saat itulah pertama kali saya mendengar nama Tromso. Waktu itu saya nggak langsung tertarik sih, karena mengunjungi Norwegia memang sudah ada dalam rencana saya juga, tapi bukan untuk ke Tromso, apalagi melihat Aurora. Pokoknya, tetep Iceland!!!!!

Nah, dalam rangka “menghasut” saya, teman saya ini sampai menceritakan fakta-fakta menarik tentang Tromso, aktivitas Aurora Borealis yang punya siklus aktif 11 tahunan yang katanya baru mencapai puncaknya 2014 lalu dan perlahan mulai menurun, bla..bla..bla… hingga masih besarnya kemungkinan melihat Aurora Borealis di Tromso dibandingkan dengan Iceland. Naah looo… sayapun mulai galau. Antara pengen nggak pengen.

Selain karena biayanya yang cukup mahal, nasib sebagai pemegang passport Republik Indonesia dan Visa UK mengharuskan saya untuk mengeluarkan uang dan tenaga lebih ketika ingin jalan-jalan ke wilayah Schengen. Beda sama temen saya yang passport-nya jauh lebih sakti, sehingga bisa pergi kapanpun dan kemanapun tanpa visa. Namun, akhirnya setelah seminggu penuh semedi dan memohon wangsit dari leluhur, serta dihantui oleh  “ancaman” temen saya dengan kata-kata “don’t be jealous if I got lots of beautiful pictures there“, saya pun memutuskan untuk pergi. Iceland?? Lupakan!!!!

Karena waktunya cukup mepet, sementara saya juga perlu membuat visa dulu, akhirnya kamipun buru-buru menyusun itinerary. Saat itu, kami fokus pada kepraktisan perjalanan saja dan harus berpacu dengan urusan pembuatan visa saya (ya, cuma saya). Seperti inilah itinerary-nya

Capturea

Dan tibalah hari itu, tanggal 27 Maret 2016, kami memulai perjalanan ke Tromso, The Artic Gateway (ke gerbangnya aja udah seneng booo!).  Dengan peralatan tempur serba biru ini, saya siap mengejar mbak mbak.

Image from Vita

Naah, ngapain aja selama di Oslo? nanti akan ada episodenya sendiri. Sekarang fokus saja sama urusan sama si Mbak Aurora dulu.

Ketika di Oslo, kami sempat bertemu dengan teman senegaranya teman saya yang baru saja kembali dari Tromso. Ya, otomatis kami excited ingin mendengar pengalaman mereka selama di sana, tapi sekaligus was-was . Excited karena sebentar lagi kami juga akan kesana dan was-was, takut kalau kami tidak seberuntung mereka yang berhasil melihat Aurora. Sayangnya, saat itu mereka belum bersedia meng-share semua fotonya, eh tapi saya juga nggak mau lihat ding, takut jealous bin baper. Soalnya, melihat Aurora Borealis itu gampang-gampang susah. Setidaknya, ada 4 faktor utama yang menentukan keberhasilan kita dalam melihatnya.

  • Pertama adalah KP Index (berkisar antara 0 – 9)  yang menunjukkan kekuatan Aurora. Semakin tingi nilainya maka penampakan Aurora akan semakin jelas dan lama.
  • Kedua, langit yang gelap. Aurora ini sebenernya bisa terbentuk kapan saja, namun ya hanya akan terlihat pada malam hari saat langit gelap. Bahkan cahaya lampu yang terang benderang dapat mempengaruhi visibility-nya.
  • Ketiga, langit yang jernih. Artinya kalau mendung, wassalam! Auroranya akan tertutupi oleh awan.
  • Dan yang terakhir, KEBERUNTUNGAN. Mau se-precise apapun rencana kita, faktor keberuntungan nggak boleh dilupakan, apalagi kalau berhubungan dengan fenomena alam.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggupun tiba. Kami menginjakkan kaki di Tromso pada tanggal 30 Maret 2016 pukul 10 pagi. Bahagia sekali rasanya, apalagi langsung disuguhi pemandangan seperti ini. Semoga itu pertanda baik, karena sesuai rencana kami akan melakukan pengejaran Mbak-mbak pada malam harinya, mulai pukul 18.30 pm.

Jpeg
View saat keluar dari bandara

Naah, kira-kira bagaimana keberuntungan kami malam itu? Apakah kami beruntung melihat mbak Aurora? atau malah apes ketemu mbak Kunti? atau menemukan keberuntungan lain dapet kenalan Mas ganteng Scandinavian?

Nantikan di cerita selanjutnya, yaa!.

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Mengejar Mbak-mbak (Bagian 1)

  1. Apikkk biiiaaangetttttzzzz…
    Jo lali, bagi2 foto yooo…
    Tak enteni crito sambungane…

    Cipika cipiki.
    Mmuuuaahhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s