Polemik Warung Siang Bolong

Seperti yang kita tahu, akhir-akhir ini lagi heboh berita razia warung makan di bulan ramadhan. Seperti biasa, pro kontra selalu ada. Larangan berjualan di bulan puasa ini sudah diberlakukan di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Pekanbaru dan Banjarmasin dengan arahan pemda setempat. Dan kejadian baru-baru ini membuat saya ingin mengeluarkan uneg-uneg. Selama ini saya berpikir “Lebay banget dech pemda ini, pakai razia-razia segala”. Orang puasa memang hendaknya dihormati dan bulan ramadan harusnya dimuliakan.

Tapi, tidak terpikirkah toleransi terhadap orang yang tidak berpuasa atau mencari nafkah dengan berjualan? Mereka juga butuh makan dan penghasilan. Tidak bisakah saling menghormati? Haruskah dibuat larangan berjualan makanan saat siang hari di bulan ramadhan? Tidak cukupkah hanya imbauan saja? Pemaksaan kadang diperlukan, bahkan dalam hal ibadah, tapi sudah tepatkah konteksnya di sini? berbagai macam pertanyaan berkecambuk di otak saya.

Sejauh yang saya tahu tidak ada hukum yang explicit tentang larangan berjualan makanan di siang hari saat puasa (koreksi kalau saya salah). MUI pun hanya sebatas mengimbau untuk tidak berjualan secara terang-terangan dan praktiknya diserahkan ke masing-masing pemda. Alhasil ada beberapa pemda yang memberlakukan larangan berjualan pada pagi dan siang hari saat ramadhan. Niatnya sungguh baik, untuk memuliakan bulan suci dan menjadi syiar ramadhan, tapi apa harus diwarnai dengan paksaan apalagi sita menyita?

Menurut saya, secara naluri, walaupun warung makan/restoran di “paksa” tutup, orang-orang yang tidak berpuasa akan tetap berjuang mencari makanan. Kalau sudah gitu, apa kabar dengan supermarket/toko yang menjual snack dan minuman dingin? Di suruh tutup jugakah, karena dianggap tidak menghormati yang berpuasa?

Melihat kondisi Indonesia yang amat beragam, di mata saya tampak kurang pas jika alasan yang dipakai adalah untuk menghormati orang yang berpuasa saja. Karena seolah-olah menjustifikasi kalau orang yang berpuasa akan mudah tergoda dengan makanan yang dijual, lalu berniat untuk membatalkan puasanya.  Idealnya kalau niat puasa sudah bulat, seharusnya godaan makanan itu tidak mempengaruhi untuk membatalkan puasa. Saya bukannya sedang menyombongkan diri kalau saya anti “ngeces” lihat makanan saat berpuasa. Selintas mikir “wah, kayaknya enak tuh rendang! Apalagi semur jengkolnya!” kala tengah hari puasa, rasanya pernah dech, sering malah. Tapi kalau sampai akhirnya saya membatalkan puasa gara-gara melihat makanan itu atau lihat orang lain makan, mungkin saya yang masih harus banyak menahan diri.

Nah, bagaimana dengan nasib orang yang mencari nafkah dengan berjualan dan orang yang tidak berpuasa? Bukankah, berjualanan makanan di siang hari bisa membantu menyediakan makanan untuk orang yang tidak puasa? Waah, itu namanya tolong-menolong dalam kemaksiatan dong?

Eits, tunggu dulu, memangnya semua orang yang tidak berpuasa saat bulan Ramadhan itu artinya berbuat maksiat? Nggak juga kan? Siapa tahu mereka memang butuh makan. So, hubungan saling membutuhkan berlaku di sini, penjual butuh pemasukan, pembeli butuh makan.

Lagian ya, sudah menjadi budaya di Indonesia, bahwa saat lebaran itu kebutuhan ekonomi akan meningkat pesat. Permintaan terhadap kebutuhan pokok, jasa transportasi, sampai kebutuhan sekunder naik yang menyebabkan kenaikan harga-harga. Semua orang ingin memantaskan diri saat lebaran. Bahkan pemerintahpun mengamini itu dengan memberikan THR. Jadi, wajar kalau orang berusaha mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sebelum lebaran. Baik para penjual, supir, tukang bangunan, sampai kuli semua kejar setoran, kerja keras demi lebaran yang layak. THR? Siapa yg mau ngasih?. Kalau mereka memutuskan untuk tetap mencari nafkah dengan mengorbankan amalan puasanya, trenyuh memang, tapi biarlah itu urusan yang bersangkutan sama Allah. Kalaupun keberadaan warung makan/restoran jadi memudahkan mereka untuk tidak puasa atau malah mempengaruhi orang untuk membatalkan puasa, secara manusiawi otak saya berpikir yaaaaaah itu mah kembali ke masing-masing orang. Tapi seberapa besar si penjual ini akan kecipratan dosanya? itu hak prerogative Allah.

Mungkin memang nggak enak didengernya, tapi urusan ibadah puasa ini menurut saya dikembalikan ke masing-masing orang saja dan tetap menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Setahu saya, di Indonesia ini sudah bagus kok, banyak warung/restoran yang meskipun buka tapi dengan menutup sebagian dindingnya, hingga hanya kaki-kaki yang kelihatan berjejer. Itu bagi saya pribadi sudah menjadi salah satu bentuk toleransi. Bagi yang berpuasa ya maklum saja lah, anggap hal itu sebagai ujian. Selama mereka (yang tidak berpuasa) tidak menyengaja menggoda dengan makan makanan di depan orang yang berpuasa, tidak sepatutnya di protes.

Tentang larangan berjualan, jika berujung pada razia, sita menyita dan menghambat rejeki orang, saya rasa larangan berjualan makanan di siang hari saat Ramadan ini masih belum cocok diterapkan, kecuali pemerintah memberikan alternatif yang solutif (jujur belum kepikiran apa solusinya). Karena ujung-ujungnya warung/pedagang kecil juga yang jadi imbasnya. Untuk sekarang ini pemerintah mungkin sebaiknya memberikan imbauan saja untuk tidak berjualan ataupun membatasi diri dalam berjualan dengan menyesuaikan jam buka dan tidak melakukannya secara terang-terangan.

Untuk umat islam juga hendaknya perlu memperbaiki kualitas diri lagi, khususnya para penjual makanan dan konsumen yang sebenarnya terkena kewajiban berpuasa. Jika mereka memahami benar kemuliaan ramadhan, dan yakin bahwa rejeki itu tidak akan tertukar, mereka bisa saja menyesuaikan diri saat bulan suci tiba. Dan bagi yang tidak wajib berpuasa, alangkah baiknya jika membatasi makan dan minum di ruang publik saat ramadhan datang. Anda mungkin tidak bermaksud menggoda, tapi Allah memberikan tes berupa puasa kepada umat Islam karena godaan perut itu memang cukup menantang dan tiap orang akan beda reaksinya.

Yaah, seperti inilah pemikiran cetek saya, uneg-uneg tentang polemik negeri ini. Semoga ada manfaatnya.

Advertisements

6 thoughts on “Polemik Warung Siang Bolong

      1. Ibuwknya howaaang kayaa.. cabang warteg-nya buanyak. Mobilnya ada. Suaminya ketua judi togel apa gitu? lupaa.. banyak bertebaran d fb beritanya mb vit.. Doi disuruh ekting nangis sama media wkt satpol PP dtg.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s