Tromso, the place where the sun never set during summer

Hi semua,

Ternyata butuh waktu 5 bulan sejak semangat kembali ngeblog muncul di otak dengan realisasi menulis. Sungguh sebuah bukti nyata bahwa saya adalah “blogger ngaku2, yang moody dan mualeeees”.

Oke langsung saja, tetiba saja pikiran saya dihantui dengan ide untuk menuangkan pengalaman saya ketika jalan-jalan ke ujung dunia. Ini membuat saya tergelitik karena ada kaitannya sama bulan puasa. Di manakah ujung dunia itu? Disebelahnya ujung berung sodara-sodara.

Jadi ceritanya awal April lalu saya mendapat kesempatan untuk menjejakkan kaki di Tromso, sebuah kota di ujung utara Norwegia. Lokasinya sudah melewati lingkaran artic, yg artinya sudah masuk daerah kutub. Tuuuh, lebih ujung kan dari ujung berung? Sila cek globe untuk membayangkan.

Saya kesana bukan dalam rangka mengejar mas-mas Scandinavian yg terkenal ganteng-ganteng, tetapi saya lebih tertarik sama mbak-mbaknya yang bernama Lady Aurora. Nah, cerita tentang Lady satu ini nanti lahnya, nunggu wangsit. Untuk kali ini, saya mau cerita tentang kota Tromso.

Tromso adalah sebuah kota yang terletak 217 miles di sebelah utara lingkaran Artic. Kota ini sebagai salah satu penghubung utama ke kutub utara dan merupakan kota terbesar di Norway bagian utara. Pusat kotanya ada di sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh daratan utama yang bergunung-gunung batu nan terjal khas Norwegia.

Untuk menuju Tromso, saya mengambil penerbangan dari Oslo yang ditempuh kurang lebih 2 jam. Bandara International Tromso terletak di ujung lain pulau, dan karena pulaunya agak berbukit, jalan ke bandara ini sebagian besar adalah jalan bawah tanah.

Nah, kira-kira seperti ini gambaran lokasinya. Yang putih-putih itu tentu saja salju, yang artinya kota ini dikeliling pegunungan bersalju sepanjang tahun. Gunung bersalju itu merupakan daratan utamanya.

 

 

Untuk menghubungkan pusat kota dengan daratan utama dibangun sebuah jembatan yang menjadi landmark kota ini. Jembatan melengkung, yang diujungnya terdapat sebuah katedral yang bernama Artic Cathedral. Panjang jembatannya sekitar 1 km, dan saya sudah membuktikan cukup ngos-ngosan untuk melintasinya pulang pergi.  Dan parahnya lagi, meskipun kota ini dingin dan bersalju, jalanannya berdebu banget.

Kata supir taksi yang membawa kami dari bandara ke hotel, Tromso ini bebas polusi industri karena tidak ada pabrik besar disini (Ya eyalaaah, siapa juga yg mau buka pabrik di ujung dunia gini?, Mihiiil). Industri utamanya adalah tourism. Berbagai paket wisata menarik ditawarkan oleh agen-agen lokal dengan harga yang aduhai bohai membuat kantong lunglai. Tapi buat orang tropis yang norak kayak saya ini it’s all worth. Kalau mau iseng lihat paket-paket liburannya, boleh intip di http://tromsosafari.no/

Gitu kira-kira intronya, nah sekarang kembali ke judul.

Jadi, konon katanya saat puncaknya summer gini, di Tromso ini matahari nggak pernah tenggelam. Nah looo, trus kemana dia? Yap, mataharinya tetep nangkring indah di atas cakrawala. Begitu jadwal sunset tiba, matahari nempel di cakrawala, gituuuuu terus sampai jadwal sunrise tiba. Ajib nggak tuh?  Jadi nggak ada ceritanya sampeyan gagal lihat sunset gara-gara mataharinya terlanjur nyungsep di balik cakrawala. Yang ada, sampeyan gagal lihat sunset karena mataharinya keburu naik. Menikmati midnight sun saat summer juga ditawarkan jadi tour yang cukup populer. Biasanya dibarengi dengan aktivitas hiking atau walking.

Kalau matahari nggak tenggelam, trus lama dong siangnya? jangan ditanya. Menurut kabar dari http://www.timeanddate.com/sun/norway/tromso, untuk saat ini, 10 Juni 2016, siangnya 24 jam. Truuus, gimana dong puasanya???? Ini yang menarik.

Di Tromso ini penduduk muslimnya sekitar 0,5%. Untuk mengakomodasi kegiatan muslim disana, dibangunlah sebuah masjid yang bernama Alnor Centre. Waktu kesana, saya sempet-sempetin mampir karena konon kabarnya ini adalah masjid paling utara di dunia. Masjidnya nggak dekoratif kayak masjid-masjid di Indonesia pastinya. Bangunannya ada diantara apartemen penduduk. Dari luar tampak sepi dan kecil. Tapi begitu masuk, masyaallah, rame banget. Saya kesana hari sabtu siang ba’da dzuhur. Alnor centre ini bukan sekedar untuk sholat, tapi untuk pusat komunitas juga. Yg saya lihat sekilas waktu itu, ada 7 ruangan. Pertama lobby utama, tempat sandal, coat dll. Di samping kanan lobby ada ruang makan + dapur dan tempat wudhu. Di depan lobby ada ruang komunitas, yang waktu itu ibu2nya lagi pada ngobrol seru. Di kiri lobby, ada ruang kelas dengan meja besar dan kursi-kursi mengelilingnya. Waktu saya lewat, banyak anak2 lagi belajar ngaji, semacam TPA lah. Nah, di balik ruang kelas ini ada ruang sholat untuk wanita yang bersebelahan dengan ruang sholat untuk laki-laki. Saya nggak berani moto ruangannya terang-terangan. Waktu itu suasana lagi sibuk banget dan nggak ada orang yang bisa diajak basa basi ngobrol. Ya sutralah, yang penting saya sudah kesampaian mampir kesitu dan ini beberapa foto yang berhasil saya ambil. Abaikan kenarsisan saya.

Sebenernya kalau sempet ngobrol sama sister-sister yang disana, saya mau foto-foto dan tanya-tanya soal puasa serta sholat saat summer, karena saya tahu daerah ini kalau summer siangnya panjang. Tapi berhubung nggak sempet dan saya juga buru-buru harus balik ke hotel, saya urungkan niatnya, dan berfikir nanti saja cek website mereka.

Dan, momen puasa inilah yang mengingatkan saya untuk mengecek jadwal puasa mereka. Karena matahari bersinar full 24 jam, jadwal puasa di Tromso ini ternyata mengikuti fatwa dari mekah. Jadwal sholat dan puasa juga mengikuti jadwal sholat di mekah. Kira-kira begini jadwalnya. Itu adalah jadwal untuk bulan Juni, untuk bulan Juli ya kurang lebih sama lah.

Capture6

Jadi di Tromso, lama puasanya kurang lebih 15 jam. Tadinya saya pikir  lama puasa saja yang dipersingkat mengikuti mekah, tetapi ternyata karena matahari di sana bersinar full 24 jam, waktu sholatnya juga disesuaikan. Waktu penyesuaian dengan mekah ini dimulai pada awal Mei dan berakhir pada pertengahan Agustus.

Itu kalau puasanya musim panas. Nah, kalau pas musim dingin gimana? Jika puasa jatuh pada musim dingin, maka mungkin muslim Tromsolah (dan sekitarnya) yang paling bahagia. Soalnya, kata salah satu tour guide di sana, kalau pas winter tiba, siangnya cuma 2 – 3 jam, dan itupun bukan siang yang sempurna. Mau coba puasa pas winter di sana?

Jangan senang dulu, hahahhaha

Ternyata kalau winter tiba, mereka juga balik pakai fatwa mekah. Penggunaan fatwa mekah ini mulai akhir November sampai pertengahan Januari. Yg penasaran jadwal resmi dari masjid, bisa diintip di http://www.alnor.no/en.pt.tromso.htm

 

 

 

 

Gitu dech kira-kira sepenggal kisah dari perjalanan saya ke Tromso. Kisah lainnya nanti nyusul, mudah-mudahan nggak sampai nunggu 5 bulan lagi. Hahhahaha…

Sebagai penutup, ini salah satu eksotisme sunset di Tromso saat saya berkungjung awal April kemarin. Cantik yaaa..

Jpeg
Sunset in Tromso

Selamat beraktivitas sobat semua, semoga tetap produktif.

 

Advertisements

10 thoughts on “Tromso, the place where the sun never set during summer

      1. Iya dong mbak, harus jadi pokoknya… Ini ngungsi karena ga sanggup puasa 19 jam… Ntar habis lebaran langsung cus ke birmie… Mbak2 minta wa dunks….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s