Tilanglah Daku Kau Kujitak!

Kemarin siang saya bermaksud memindahkan seperangkat komputer dari rumah ke kantor. Untuk itu, sayapun minta tolong OB (sebut saja Mang Toyib) untuk membantu saya dan saya suruh dia pakai motor milik kantor yang kebetulan masih gress! alias baru.

Tepat jam 2 siang, kamipun berangkat menuju rumah saya. Saya sengaja nggak bawa HP dan dompet, karena repot bawanya. Sebelum berangkat, saya dan Mang Toyib sempet berdiskusi.

“Mbak, mau bawa STNK nggak, soalnya STNK.nya ada di Pak Opik?” (secara motor kantor gitu, yang pakai sehari2 adalah Pak Opik, Kepala TU di kantor)
“Terserah dech, kira2 ada polisi ga?”
“Ah, paling kalo siang gini mah enggak”
“Yo wes, nggak juga nggak papa, yuk berangkat” (saya nyesel banget udah ngomong gini)

Setelah itu, kamipun dengan pedenya membelah jalan Bogor. Saya yang udah biasa bonceng motor tanpa helm pun tetap melestarikan budaya itu.

Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba kami diberhentikan oleh sesosok tubuh berompi hijau menyala dengan helm dan kacamata hitam. Setelah saya amati lebih detail, akhirnya saya sadar kalau dia adalah PAK POLISI.

Deg! My Heart’s pounding. Keknya kalo dispeaker bisa ngalahin musik ajeb-ajeb dech.

Ketika Pak Polisi mendekati kami berdua, saya sama Mang Toyib langsung beradu pandang, panik!

“Mang, ada SIM kan?” saya bisik-bisik sama Mang Toyib
“Nggak Mbak!”

WHAAAAAAAT!

“Ini kenapa plat nomornya palsu?, mana yang aslinya?” Tiba-tiba Pak Polisi mengagetkan kami sambil nunjuk plat nomor yang kebetulan ada tulisan nama kantor saya disana.
“Ada Pak, cuma nggak dipasang”, jawab Mang Toyib
“Ayo, minggir dulu!” Kamipun digiring ke dekat Pos Polisi.

Sementara Mang Toyib ngikutin Pak Polisi, saya bergegas balik ke kantor dengan naek ojek, bermaksud ngambil STNK, helm, henpon, uang dan cari bantuan.

Sampai kantor, tukang ojeknya saya suruh nunggu dulu. Saya langsung ke ruangan Pak Opik dan pas sampai sana, ternyata Bos Besar juga ada disana. Waduh, gimana ngomongnya niy? Akhirnya saya cuma bilang ke Pak Opik kalo saya butuh STNK. 

“Oia, mau pulang ya, Mbak? tadi Mang Toyib cerita, katanya mau antar Mbak Vita ambil komputer” Sayapun cuma ngangguk dan begitu beliau ngasih STNK, saya langsung kabur.

Setelah dapet STNK saya buru-buru ke ruangan Mas Ading, Bagian Keuangan, bermaksud minjem uang, soalnya saya nggak bawa uang cash banyak.

“Mas, Vita mau pinjem duit, kami pakai motor kantor dan ketilang Polisi, mana gak bawa SIM, STNK dan helm pula!”
“Wah, kok bisa? Bilang Pak Opik dulu aja, Mbak!”
“Duuh, ditempat Pak Opik lagi ada Bos, bingung ngomongnya. Pinjem aja dech, nanti aku ganti!” Saya mendesak Mas Ading.

Pucuk dicinta ulampun tiba! Ujug-ujug Pak Opik malah dateng ke ruangannya Mas Ading. Nggak sama Bos pula. Yippieeeeee!
Langsung dech saya ngadu. Dan begitu dengar laporan saya, Pak Opik malah mesem2 dan memberikan pernyataan yang mengagetkan.

“Wah, gimana negh, sebenernya nomor polisi itu emang palsu. Yang aslinya belum keluar, Mbak. Makanya belum dipasang. Jadi, nomor itu juga bakal beda sama yang ada di STNK”

APA?? (bibir mlogo, mata melotot)
Makin lemeslah saya. Gila, hari ini kami benar-benar buat pelanggaran besar.

Akhirnya sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa belas kasihan, Pak Opikpun bersedia ikut saya ke TKP untuk bantu ngurus penilangan ini. Tentunya saya tetep aja maksa minjem duit sama mas Ading, termasuk duit buat bayar ojek.

Alhamdulillah, berkat jerih payah Pak Opik, urusan tilang menilang inipun selesai. Kami harus membayar kesalahan kami dengan  Rp. 150.000,-. 
Agak sedih juga siy, hari ini kami melakukan banyak pelanggaran dan terlibat dalam praktek suap-menyuap kecil-kecilan. Udah tau salah, tetep aja mau enaknya.

Setelah urusan beres, saya dan Mang Toyibpun melanjutkan perjalanan ke rumah saya. Pas udah sampai dikantor lagi, saya langsung menemui Mas Ading untuk ngurus soal uang yang saya pinjam tadi. Dan dengan begitu manisnya Mas Ading berkata..

 “Mbak, biaya yang tadi masuk ke biaya operasional kantor kok, jadi mbak Vita tinggal tanda tangan aja di sini, sebagai bukti penggunaan”

Wuaaaaaaaah, lega luar biasa hati saya.

Advertisements

41 thoughts on “Tilanglah Daku Kau Kujitak!

  1. dooohhh kasian.. lain kali pakelah helm dan ada stnk asli.. ngakak bagian akhir, ternyata rejeki ga kemanamana.. pakbos ga keritkening tuh kalu liat catatan buat biaya operasional kantor?

  2. Cerita pengalamanya sangat menarik sekali, Aku suka banget membacanya. Tfs ya Mba, lain kesempatan jangan lupa lagi surat-surat penting yg berhubungan dgn pak polis hehehe…Sukses ya…

  3. Iya, di surabaya itu jauh lebih tertib dari pada di bogor Han. Di Bogor, polisi itu angot-angotan nilang yang nggak pake helm dan nggak nyalain lampu. Pokoknya untung2an. Jarang juga ada operasi, akhir2 ini aja.

  4. Embeeeeeeeeeeer….*ngecek sent item*eh, ada report sent kok na, masak nggak nyampe? Tadi aja sempet sms-an sama bu arni juga. Smsnya sama pula, kompak bgt kalian? HehehehInsyaallah dateng na.

  5. Badung yaaaaa……Btw, ikutan donk sekalian bonceng tiga , nggak pake helm , nggak ada SIM , nggak ada STNK , plat nomor palsu, nggak idupin lampu motor, terabas lampu merah dan berjalan lawan arah… Biar lengkap daftar dosa nya…. Hihihihi (^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s