Saat Vita Curhat

Hai All
Sebelumnya aku ingin menginformasikan kalau postingan ini adalah postingan terbatas. Terbatas untuk temen-temen MP yang kebetulan sudah tahu apa pekerjaanku. Soalnya mau curhat tentang kerjaan negh. Awalnya cuma niat corat-coret aja di leptop, tapi ntah kenapa tiba-tiba pengen tak posting ke MP.
Panjang banget ceritanya, kalau ga dibaca juga ga papa kok, tapi komen ya… Hahahahahah…….
Ssssssst…….kali ini aku mau serius ah (lihat, udah pake kata aku)
And the story goes………

Hari ini aku benar-benar merasa seperti berjuang layaknya seorang ibu yang membela anaknya. Tapi sayang anaknya ini tak cukup pantas untuk dibela. Akhirnya yang terjadi adalah kalah…

Namanya Jojo. Penampilannya biasa, terkesan santai, bandel tapi agak pendiam. Kalau melihat wajahnya, pasti akan hadir sejuta tanya, “apa yang sedang dipikirkan anak ini?” Karena beberapa kali kulihat matanya, sepertinya dia sedang berkelana kealam lain. Sosok dengan sejuta pikiran atau bahkan malah nggak mikir sama sekali. Who knows??

Dia adalah mahasiswa angkatan 2008. Kebetulan aku menjadi dosen walinya sejak awal tahun ajaran lalu. Kalau di IPB, mahasiswa baru mendapat dosen wali pada tahun ke-2, setelah dia masuk ke jurusan/program studi. Praktis aku baru mengenalnya sekitar 7 bulan (Agustus 2009 – April 2010). Ini adalah mahasiswa ke-4 dimana aku menjadi dosen walinya.

Saat pertama dia datang menemuiku untuk konsultasi tentang rencana studinya, dia kuminta menunjukkan nilai di tahun pertamanya yang cukup membuatku kaget. IPKnya nyaris diambang DO. Ada dua nilai E nangkring di transkrip. Dan yang lebih membuatku kaget lagi, dia mengaku punya tunggakan biaya kuliah di tahun pertama sebesar Rp. 1.700.000,-. Alasannya adalah salah transfer uang. Sebenernya itu bisa saja terjadi mengingat banyak sekali rekening atas nama Rektor IPB tetapi dengan No. Rekening berbeda-beda sesuai peruntukannya. Makanya aku berusaha percaya saja sama dia. Toh kalau sampai itu beneran terjadi pasti masih bisa diurus, asal dia menunjukkan bukti transfer. Dia juga memintaku tidak memberitahukan masalahnya itu kesiapapun, termasuk abangnya. Kebetulan aku kenal abangnya karena mereka masih satu jurusan. Abangnya angkatan 2005. “Oke, kamu bisa percaya saya asalkan kamu bisa juga dipercaya! (itu kalimat saktiku)

Soal tunggakan tahun pertama sementara lewat. Aku percayakan ke dia untuk mengurusnya dan akupun berjanji tak menceritakan masalahnya kesiapapun. FYI, Jojo ini berasal dari keluarga cukup mampu. Kamipun melanjutkan dengan diskusi membahas mata kuliah yang harus dia ambil, dan target nilai yang harus dicapai biar semester 3 selamat dari ambang DO.

Ketika tahun ajaran baru dimulai, segalanya tampak normal dan baik-baik saja. Tapi Jojo terlihat jarang gabung sama teman-temannya. Sampai pada minggu ke 5, tiba-tiba ada surat mampir ke mejaku yang menyebutkan bahwa Jojo punya tunggakan sebesar Rp. 3.500.000,-. Whaaaaaaaaat? Kok malah nambah? Kesimpulannya uang kuliah semester 3-pun belum dia bayarkan. Kok bisa? Nggak ngomong lagi sama aku! Aku berusaha cari info kesana sini. Dan ternyata benar, uang kuliah semester 3 belum dia bayarkan.

Sejak itu pula dia menghilang. Hampir 2 minggu nggak ada kabar, nggak pulang juga. Mana mau UTS lagi. Sempat terbesit kekhawatiran dia terlibat aliran2 aneh (maklum, di IPB ada loh). Mulai dech, tumbuh rasa bersalah dalam diriku karena nggak komunikasi sama keluarganya. Aku salah mempercayainya. Karena ternyata, aku sama sekali nggak kenal Jojo. Kalau mahasiswaku yang lain, mereka sangat kooperatif, terbuka, bahkan sering curhat segala. Tapi Jojo, bersembunyi di balik wajah innocent-nya. Ntah, apa yang ada dalam pikirannya.

Kabar menghilangnya Jojo membuat aku membuka komunikasi sama keluarganya. Aku beberkan semua masalah baik tentang uang, maupun IPK yang sekarat. Daaaaaaaaan, you know! Keluarganya baru tau kalau Jojo separah itu. Dan aku pun baru tau kalau Jojo ternyata tukang bohong. Makin risaulah diriku, karena secara akademik, dia akan jadi tanggung jawabku.

Setelah melakukan upaya pencarian berhari-hari, akhirnya Jojo ketemu juga. Dia ternyata lagi sibuk cari kerja untuk mengganti uang kuliah yang belum dia bayarkan. Dia takut pulang, dia takut kalo kena marah sama keluarganya (ini pengakuan Jojo, tapi mana mungkin aku percaya). Ketika kutanya kemana larinya uang kuliah semester 3 yang belum dia bayarkan, dengan entengnya dia jawab, uang itu udah dikasih ke dia, tapi hilang dikosannya. Makanya dia belum bisa bayar. Oh, No! Alasan apalagi ini???
Trus ketika kutanya tentang nasib uang yang salah transfer itupun, dia bilang belum sempet ngurus ke rektorat, karena dia sibuk bekerja. Haihai………..loe sibuk kerja, trus ude ada duitnye belon???
Aku bener-bener emosi ngadepin Jojo. Dia tuh sok bisa mengatasi masalahnya sendiri tapi mana buktinya?  Yang ada masalahnya malah makin bertambah. Mau diomelin terus2 kok ya buang-buang tenaga, ga diomelin kok ya bikin kesel. Serba salah.

Ya sud, akhirnya aku ingetin lagi dia tentang nasib IPK-nya yang sekarat. Aku malah sempet bilang gini: “Kalau emang niat pengen di DO, ga usah repot2 Jo, sini aku buatkan surat pengunduran diri aja. Dari pada DO, ntar malah jelek2kin nama jurusan aja”
Denger aku ngomong gitu, dia kaget juga dan setelah itu dia janji mau bener2 kuliahnya (Liat aja ntar Jo!). Kudengar keluarganya pun bersedia membayar tagihan Jojo, tapi nanti, lihat dulu apa Jojo bener-bener bisa dipercaya kembali. Semester 4 nanti dia akan disuruh cuti atau malah berhenti aja. Dan yang terjadi, setelah itu Jojo berubah 180 derajat. Dia jadi mahasiswa yang aktif, sering terlihat bareng temen-temennya, bahkan paling semangat. Paling tidak dia memperlihatkan kesungguhannya kuliah. Heh, takut kau Boy!

Semester 3 berakhir sudah. Bersamaan dengan itu aku tenggelam dalam kesibukan kerjaan di jurusan sekaligus persiapan untuk perkuliahan semester berikutnya. Jojo hampir terlupakan. Tapi aku sempat memberikan saran kekeluarganya, lebih baik Jojo dibiarkan kuliah dulu di semester 4, baru kalau di semester 4 ga ada perubahan sikap dan perilaku, silahkan ambil tindakan. Keluarganya setuju, Jojo bisa kembali kuliah di semester 4, dengan catatan dia bisa membuktikan bahwa uang yang Rp. 1.700.000 itu betul2 salah transfer.

Daaaaaaaaaaaaaan, beberapa minggu yang lalu aku kembali menerima kejutan. IPK Jojo di semester 3, benar-benar siap DO. Tapi dia masih selamat karena ada 2 mata kuliah yang nilainya belum masuk. Selama kedua nilai itu belum masuk ke transkrip, sejelek apapun nilainya, dia tidak akan di DO (Begitulah sistem di IPB, mau diperbaiki sih). Akhirnya aku tanya dia, kenapa nilainya sampai belum masuk, sementara temen2nya udah? Biasanya sih, pasti ada masalah sama mahasiswanya. Ternyata benar, absensi Jojo tidak memenuhi syarat (banyak bolosnya), makanya dosennya nggak mau ngasih nilai.

Aku suruh dia segera menghadap dosen mata kuliah yang bersangkutan (kebetulan 2 mata kuliah ini dosennya sama, jadi cukup ngadep ke 1 orang). Aku bilang, kalau sampai dosen ini ngasih kamu nilai E, tamat kamu Jo. DO pasti di tangan.  Dia bilang iya, ntar mau ngadep dosennya. Tapi aku ga percaya gitu aja, aku cek ke dosennya langsung. Dan sampai 2 minggu berlangsung dia tak kunjung menghadap juga. Emang pengen di DO kali ya??

Sampailah pada peristiwa hari ini, saya dapat kabar Jojo terancam dinonaktifkan karena belum membayar tagihan hingga Semester 4 yang membengkak menjadi Rp. 5.300.000. Apa lagi iniiiiiiiiiiiiiiiiiii?? Jadi semester 4 sudah berjalan 7 minggu, dia juga belum bayar? Ck..ck..ck.. masa pembayaran juga sudah lewat. Aku tanya kekeluarganya, kenapa sampai begini? Ternyata Jojonya yang kurang komunikasi dengan keluarganya soal pembayaran uang kuliah. Dan diapun belum memenuhi janjinya mengurus uang yang salah transfer. Salah siapa coba? Mosok ya aku???

Aku kembali berhadapan dengan Jojo hari ini. Kupanggil dia keruanganku. Kuberondong dia dengan berbagai pertanyaan, dan dia tetap menjawab dengan wajah innocent yang menyebalkan. Ketika kutanya kenapa belum mengurus nilainya, dengan enteng dia menjawab, belum bisa ketemu sama dosennya. Oh Dear, dosen yang kau cari itu adalah dosen paling rajin yang pernah ada, hampir setiap hari ada dikampus, bisa di hubungi lewat telepon atau sms. Jadi dimana susahnya?? Soal tagihan aku sudah nggak mau peduli lagi.

Akhirnya kupaksa dia ketemu Ibu Dosen hari ini juga, tetap dengan ancaman DO. Karena aku tau, kalau sampai Jojo nggak menghadap Ibu Dosen, bisa dipastikan beliau akan mengeluarkan nilai E. dan tamatlah Jojo. Akupun terpaksa ikut campur. Aku telepon Ibu Dosen yang bersangkutan (Jojo ga tau siy), dan aku memohon kalau Jojo ini menghadap tolong nilainya jangan E, minimal D. Sebenernya ini agak nggak etis, aku juga malu karena ga sepantasnya Jojo tetep dibela, tapi dari pada anakku di DO. Hasilnya, keberuntungan masih berpihak pada Jojo, si Ibu bersedia memberikan nilai jika Jojo bisa mengerjakan tugas2 tambahan dengan baik.

Tapi masalah ga berhenti sampai disitu. Karena Jojo belum membayar uang kuliah sampai batas waktu yang telah ditetapkan, status non aktif ternyata benar2 di tangannya. Dia nggak bisa kuliah semester ini, tetapi tetap harus membayar tagihannya.
So, Bye..bye..Jo! Sampai ketemu Semester depan ya!
Untuk soal ini aku tak bisa membantu lagi.

Daaaaaaaaaaaaan, sore tadi saya baru dapet kabar dari abangnya Jojo, kalau ternyata uang Rp. 1.700.000, bukan salah transfer, tapi uangnya dipinjamkan ketemennya yang katanya lagi butuh uang. Speechless dech! ^.^

Aku menyesal nggak mengkomunikasikan masalah Jojo dari awal kekeluarganya, aku menyesal terlalu mudah percaya ke dia, aku menyesal sudah mempertahankannya tetap kuliah di semester 4. Ntahlah, aku merasa gagal.

Jo, taukah kamu berapa banyak kesempatan baik yang sudah kamu lewatkan?? Aku hanya berharap, masih banyak kesempatan baik lewat untukmu. Jangan pertaruhkan masa depanmu dengan kebodohan dan kebohongan meskipun itu sederhana.

Nb. Sebenernya hari ini aku sedang patah hati, tapi Jojo lebih membuat aku sedih

Advertisements

19 thoughts on “Saat Vita Curhat

  1. Memang vit, tp kadang ada yg menyia2kan kesempatan kuliah krn jurusan yg didapet ga sesuai yg dia mau. Entah krn paksaan keluarga ato gmn.Ada sodara yg kuliah sampe 9th gara2 dipaksa msk akuntansi. Bukan krn ga bisa ngikuti, tp krn dr awal dia pengen msk bahasa. Tp ortunya maksa cuma gara2 semua kakaknya jd akuntan sukses 🙂

  2. @ mamah : iyo mah, memang bisa macem2 alasane. Makane jgn maksain jurusan dech ke anak, fatal akibatnya. Apalagi kalau anak, bnr2 ga bisa menyesuaikan.Kalo jojo ini, dia ndiri yg milih kuliah di IPB, dan milih sejurusan ma abangnya.Dia sbnrnya udah setaun kuliah di jurusan metalurgi, untirta banten. Tp ga betah, trus keluar dech. Masuk IPB.Kalo kereta ndak ada mah, naek bis aja. Eh, mau ke t4 dedy ta? Hahahaha

  3. Bis tuh kalo normal antara 7-8 jam mah. Brgkt dari terminal sekitar jam 7 malem. Kalo siang blum ada bis. Kalo pagi, ada mpe jam 9.Nek naek travel, aku ga tau mah. Ak ndak suka naek travel, sempit. Hehehehe.

  4. Waaah…*jitak-jitak jojo*aku bingung teh..Tp salut buat perjuanganmu teh… Jempol,Semoga jojo bs terbuka pikiran dan hatinya…Tetap berjuang bu! Demi mencerdaskan anak2 bangsa…hehePatah hati kenapa bu? Perlu dilem kah? :DMiss u teh..dah lama bgt g ketemu

  5. Patah hati?Just tell me.Mending kita karaoke biar senang di hati heheKebangetan tuh si jojo.Tp usahamu sudah maksimal dear,biar itu jd pengalaman berharga bagi jojo.Tetep semangat!*big hug*

  6. @ neng n teh mia : thx, i feel better today.Patah hati sama seorang lelaki. HeheheheTapi ga papa kok. Soalnya udah prepare dri sblmnya. Jadi ga shock2 amat.Ntar kapan2 kalo ketemu aku cerita dech.Wah, mau dong b'senang2. Tapi, dalam 2 mggu ini ga bsa beredar sampai bogor dulu. Lg byk PR. ^.^

  7. beuuh…..bekas petugas Buser dilawan. Mati lah kau Jo diinterogasi hehe…Mungkin kakaknya jg kudu ngejagain dia.kondisi Jojo sedang labil & gampang terpengaruh. Jangan terlalu di keep juga,Vita. Bs tergantung terus dia denganmu. Yang nanti paling repot kan kalau tiba2 keluarganya Jo minta loe kawin sm dia. Mati lah kau haha…..*masih bisa tertawa diatas penderitaan orang hehe…

  8. *nimpuk dedy pake sendal bakiaksembarangan aja ketawa di atas penderitaan orangayo vit, mari kita ketawa, bersenang2, biar ga terus2an di ktawain dedy 😀

  9. @ dedy : msh mending disuruh kawin sama jojo lah, dari pada sama lu.Kekekekek*msh bisa tertawa diatas penderitaan sendiri*@ teh mia : dedy emg gtu teh, tp kalau itu membuatnya bahagia, biarlah. *sok nrimo.com*@ adhit : iya, dhit! Untung gw ga jdi guru Bepe. Bisa lbh stress keknya.

  10. Mbak Vita, kalo ketemu mahasiswa yang model begini emang yang paling bikin pusing….Sebagai sesama dosen cie..cie…memperjuangkan mahasiswa memang boleh boleh aja, tapi kalo mahasiwa tersebut termasuk bukan jenis mahasiswa yang patut diperjuangkan…energinya gak perlu terlalu terkuras kesitu deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s