Pelajaran di bangku stasiun

Postingan ini sudah ngendap di draft beberapa lama. Mumpung lagi bisa onlen pake PC, saya sempetin untuk finishing kemudian diloncing. Itung-itung sebagai upaya untuk menghentikan ke-error-an yang menimpa MP saya akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat. Rada serius negh. Sumpe dech!

Sore itu saya bersama my partner in crime (temen kantor siy, cuma sama dudulznya! Hehehehehehe) duduk di bangku stasiun kereta bogor. Kami sedang menunggu hujan reda. Kalo gak salah waktu itu kami baru saja pulang dari mangga dua (hari kerja kok malah mbolang ke mangga dua, ck..ck..ck..).

Kebetulan sifat kami hampir sama (sama error maksudnyah) jadi ya kalo ngobrol sama dia nyambung aja, walo beda umur kami lumayan jauh.
Temen saya ini 10 tahun lebih tua, sudah berkeluarga dan mempunyai 2 orang junior yang sangat lucu. Nah, Kalo otak kami lagi lurus, biasanya kami seneng membicarakan berbagai hal yang serius tentang kehidupan ini. Tsaaaaaah
Contohnya siang itu…..

Tiba-tiba, uni (begitu saya sering memanggilnya) memberikan satu pertanyaan ke saya.
Uni : “Vit, lu masih ngerasa ga, kalo lu ga pengen tergantung banget sama pasangan atau orang yang lu sayangi?”
Vita: “Sure, pan kita pernah bahas uni!”
Uni : “Yap, karna kita ga mau ngerasa kehilangan banget waktu orang yang kita sayangi itu pergi meninggalkan kita, apalagi untuk selama-lamanya”
Vita: “Ho’oh!” (dan kita pun langsung toss)
Uni : “Tapi sekarang pendapat gw ga gitu vit”
Vita: “Lho, kok??”

Akhirnya uni pun menjelaskan alasannya.
Jadi suatu hari uni ketemu sama seorang kolega (ibu mia) yang kebetulan baru saja kehilangan suaminya (meninggal dunia).  Sang suami meninggal dunia saat menunaikan tugas di Tokyo.  Bu Mia bercerita betapa dia sangat kehilangan suaminya. Karena sejak menikah, Bu Mia tak pernah terpisah dengan suami. Bahkan ketika suaminya mendapatkan tugas belajar ke luar negeri selama 5 tahun, Bu Mia rela meninggalkan pekerjaan dan kuliahnya untuk menemani sang suami.  Kini
, demi anak-anaknya yang masih kecil, Bu Mia berusaha ikhlas dan bersabar meneruskan hidup, meskipun tanpa sang suami lagi disisinya.

Dalam obrolan tersebut, uni kemudian berkomentar “itulah sebabnya saya ga mau terlalu tergantung dengan suami”. 

Karena uni nggak mau ketika suami sedang tidak bersamanya atau ketika suami meninggalkan untuk selama-lamanya dia akan merasa kehilangan dan terpukul dalam jangka waktu yang lama. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Uni melihat sendiri bagaimana sulitnya sang mama menjalani hidup setelah papa uni meninggal. Uni nggak mau hal itu menimpa dirinya. Oleh karena itu, dia nggak mau bermanja-manja dengan suaminya. Selama uni masih bisa melakukan sendiri, dia nggak akan minta tolong sama suaminya. Contoh kecilnya adalah soal jemput-menjemput. Dengan alasan tak mau merepotkan suami, uni lebih sering pulang dan pergi sendiri. Padahal suaminya sering menawarkan untuk mengantar jemput.

Namun, pendapat Uni ditanggapi lain oleh Bu Mia.
“Kalau saya berfikirnya nggak gitu, Dik. Saya memang kehilangan beliau, berat sekali menjalani hidup tanpa suami. Dan saya akui, saya memang sangat tergantung sama suami. Tapi saya bersyukur, karena semasa suami saya masih hidup, saya diberikan waktu yang cukup banyak untuk menikmati hari bersamanya. Saya nggak menyesal sudah mengorbankan banyak waktu saya untuk menemani suami. Anak-anak juga. Setiap detik menjadi waktu paling berharga buat saya dan anak-anak. Itu yang akan kami kenang dan menjadi kekuatan kami untuk melanjutkan hidup”.

Begitu denger penjelasannya Bu Mia, uni langsung nangis bombay, dan berterima kasih karena Bu Mia sudah memberikan pencerahan.
Dan sore itu, saya pun menerima pencerahan dari Uni.
 
Ketika Uni menceritakan kembali pengalamannya ngobrol sama Bu Mia, aer mata buaya saya langsung membanjiri pipi.
Saya langsung ingat betapa sedikitnya waktu yang saya luangkan untuk keluarga saya. Saya udah nggak tinggal sama Bapak Ibu sejak SMA.
Saya jarang nelpon mereka, mudik juga jarang. Sore itu, yang langsung terlintas dalam pikiran saya adalah saya pengen pulang ke rumah dan meluk bapak ibu, juga adik-adik. Tapi karena belum memungkinkan, akhirnya saya pun nelpon mereka malam harinya, dan sampai saat ini saya selalu berusaha intens berkomunikasi dengan orang-orang yang saya sayangi. Saya nggak mau kehilangan waktu berharga bersama mereka.

Jadi, selagi orang-orang yang kita sayangi masih bersama kita, luangkanlah sebanyak mungkin waktu bersama mereka. Ketika mereka pergi, kita pasti sedih dan kehilangan. Tapi paling tidak, kita tidak akan menyesal karena
telah menggunakan setiap detik kesempatan berharga untuk bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayangi.

Sebuah pelajaran berharga di bangku stasiun,
sore itu.

 

Advertisements

41 thoughts on “Pelajaran di bangku stasiun

  1. Inget kopdar, ingat mudik, ingat simbok dan bapakku di rumah. Hiks…hiks….mah, belum ada rencana mudik lagi negh. Mbok dikau yang kesini, dalam rangka promo batik gito loch!

  2. hiksss… itu bener banget vit..aku ngalamin sendiri..dan waktu ga kan mungkin memutar kembali ke masa lalu..kebersamaan mrpkan hal penting… luangkan waktu untuk keluarga… karena kalo kita sudah kehilangan orang yg kita sayangi, rasa sesal itu pasti datang… ayo luangkan waktu untuk nelepon keluargamu..

  3. nice post.jgn sedih ya neng Vita.dua orang yg disatukan dalam mahligai pernikahan memang sudah sepatutnya hidup bersama. Saya udah kasih statemen ke calon istri saya: "Kita cari beasiswa di dalam negeri aja.Kalaupun ke luar negeri, hanya bentuk short course aja". Selain qt ga mau berpisah utk jangka waktu yg lama, ortu kita dah pd tua.Siapa lg yg bs diandalkan kecuali anak-anaknya.Pengalaman Bapak saya telah memberikan pelajaran.Pada saat kedua orang tua Bapak saya meninggal, Bapak saya ga ada di sampingnya.*lho kok malah curhat….

  4. hmmm .. hampir semua postinganmu sista ingin daku comment .. tapi akhirnya kuputuskan ini yang akan ku comment … gila keren bangett …. bener2 postingan super serius ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s