Makna sebuah pemberian

Temen saya mengajar di sebuah SD. Sudah menjadi tradisi di sekolah itu, setiap kenaikan kelas, sebagian besar wali murid akan memberikan berbagai macam bentuk ucapan terima kasih atas kerja keras para guru dalam mendidik putra-putri mereka selama satu tahun. Pemberian bisa berupa apa saja dan diserahkan disekolahan pada saat pembagian rapot kenaikan kelas. Menurut saya sih wajar aja, rejeki guru lah.

Nah, selama teman saya mengajar di SD itu, beberapa kali ada wali murid datang langsung ke rumah dengan berbagai alasan, dari hanya sekedar silaturahmi hingga konsultasi soal pendidikan anaknya. Tidak jarang para wali murid yang datang ke rumah teman saya tersebut membawa bermacam-macam oleh-oleh baik berupa makanan maupun barang. Anehnya, beberapa kali ada wali murid yang tanpa alasan jelas serta moment yang tepat, datang dan memberikan barang yang cukup berharga kepada teman saya ini. Sampai saat ini, teman saya sudah menerima handphone, cicin emas, bahkan beberapa hari yang lalu dia mendapatkan televisi 21 inchi (baru dan gress!) dari wali murid.


Kalo udah gini, kadang saya mikir “wah….kira-kira apa negh motif di balik pemberiannya??” Temen saya sedang tidak ulang tahun. Ini juga bukan moment pembagian rapot.  Ehm…ntahlah.


*Vita…., Jangan berburuk sangka!*

Tapi, mau ga mau, pemberian semacam itu pasti akan membebani pikirannya. Mudah2an sih tidak mempengaruhi subyektifitasnya dalam mendidik murid-muridnya di kelas. Dan saya percaya, untuk satu hal ini temen saya bisa diandalkan. Tetep amanah ya say!

Dan walopun tidak diberikan pada moment yg tepat, mudah2an niat para wali murid tersebut juga benar2 ingin berterima kasih kepada teman saya. Tidak menuntut embel2 berupa perlakuan istimewa terhadap putra-putrinya disekolahan.

Kasus seperti ini terkadang cukup sensitif. Tergantung bagaimana si pemberi dan si penerima memaknai sebuah pemberian. Ada loh, temen saya yg nggak pernah mau menerima pemberian apapun dari seseorang yang sekiranya bisa mempengaruhi penilaiannya terhadap orang tersebut. Cukup sering dia menolak pemberian dari org, sekalipun itu sebagai ucapan terima kasih. “Untuk menghindari hal-hal yg tidak diinginkan” gitu katanya. Ehm..Jadi sering mikir 2 kali klo mau ngasih sesuatu ke dia.

Menurut saya, apabila memberikan “sesuatu” karena berhubungan dengan bantuan orang lain, lebih baik memberikannya ketika sudah di bantu, bukan pada saat mau minta bantuan. Yaaaaah, resikonya, bisa jadi kita tidak mendapatkan bantuan seperti yg diharapkan. Tapi itu menjadi pelajaran moral bagi saya, bahwa membantu org itu ya harus tulus. Jangan mengharapkan imbalan atau karena kita telah di beri “sesuatu”. Saya jadi bisa membedakan, mana yg tulus membantu mana yang tidak.

Kalopun nggak berhubungan dengan bantuan, bisa juga kita memberikan “sesuatu” pada moment2 yang tepat seperti ulang tahun, lebaran, saya lagi dapet rejeki, kenang-kenangan atau sekedar ngasih oleh2 ketika kembali dari suatu tempat.

Nah, sekarang kalo posisinya sebagai org yang diberi, menurut saya, kita harus berusaha memilah mana yang bisa diterima mana yg tidak. Kalo yg tidak, sebisa mungkin ya ditolak, tapi kalo yg ngasih maksa ya terima aja lah, namanya juga rejeki.

Jadi… apa makna dari sebuah pemberian?

Apakah pemberian itu ucapan terima kasih?

Apakah pemberian itu tanda cinta kasih?

Apakah pemberian itu mengharapkan pamrih?

Menurut saya, makna pemberian terletak pada ketulusannya. Pemberian yang tulus akan selalu manis, apapun bentuknya. Dan kebahagiaan memberi terletak pada kebahagiaan ketika melihat org lain berbahagia karena pemberian kita.

*Sedang belajar rahasia memberi*

Cheers!

Advertisements

One thought on “Makna sebuah pemberian

  1. ibuku juga guru SD mba… ngajar kelas 6. Pasti tiap tahun selalu dapet kenang2an kelulusan dari muris2nya… tapi biarpun selalu di kasih "kenang2an" ibuku tettep aja galak kalo ngajar, Beliau gak peduli. Mau di kasih barang apa juga…Apalagi kalo udah ujian nasional kan guru tidak bisa ikut campur soal nilai. Yang ada hanya hasil usaha murid itu sendiri dengan dibuktikan nilai yg baik atau jelek. Ya tho??**jadi kangen Ibu**

  2. samaaaaaaaaaa bgt sih wid.Tosssssssssss!Nah, klo ngasihnya pas kenaikan kelas ato kelulusan mah wajar. Mamiku juga. Tapi yg ini, ga da angin ga da ujan, tiba2 ngasih. Mudah2an sih emang tulus mau ngasih aja. Sebagai bentuk perhatian. ^_^

  3. ooo iya juga ya… tapi mudah2an temenmu tidak tergiur dengan benda2 duniawi ya mba… dan tetep menjaga amanah untuk mencerdaskan anak bangsa… hehheehalah bahasane ki lho… Hidup Guru!!! *sambil bawa bendera gambar ki hajar dewantara, kaya orang kampanye*

  4. Emm…kalo dosen kayak elo maunya dikasih apa men biar ngasih nilainya "tulus", wakakak!!!!Seandainya semua orang mikir kayak elo pasti negara kita amn tentrem ya men, kaga ada tuh yang namanya koruptor n sejenisnya…

  5. Yoa put..tapi klo yg ngasihnya maksa ya mau gimana lagi??Tau ga, pas ngasih tv tea, tiba2 ada 2 org dari toko elektronik dateng ke kosan, katanya disuruh ibu X utk nganter TV ke alamat ini. Trus sorenya si Ibu X dtg kekosan, n ga ngomong apapun soal TV, cuma ngomong masalah perkembangan studi anaknya. Temenkuw bingung setengah mati. Hi..hi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s